Monday, January 10, 2011

Memetik Hikmah Kisah Pembantu

Selama gw kos di rumah ini udah hampir 1 tahun, udah hampir 4 kali juga ganti – ganti pembantu, bukan karena mereka gak betah di rumah ini, tapi karena alasan mereka, pembantu pertama orang purwokerto dia berhenti karena anaknya ga mau di tinggal, maklum anaknya masih kecil, ayahnya juga belum lama meninggal. Sementara sambil nyari pembantu lain, ibu yang punya kos naro pembantu baru asal garut sayangnya ga bisa masak, jadi ibu bawa lagi itu pembantu ke bogor, karena sebenernya dia pembantu ibu kos yang tinggal di bogor. Ga lama datang pembantu baru dia orang cilacap, namanya meli umurnya 19 tahun, tapi dia sebenernya kerja di rumah ini Cuma buat nunggu untuk berangkat jadi TKW ke hongkong, sebelumnya dia pernah jadi TKW selama 2 tahun di Singapore. Yah ga nyampe 2 bulan dia berangkat ke hongkong… good luck yah. Gantinya sepupunya dia yang pernah kerja di Malaysia namanya dewi, umurnya ga jauh beda sama gw , Cuma beda 15 hari lahirnya sama gw, hahaha… tapi dia udah pernah nikah waktu umur 14 tahun. (sementara gw masih nyari yang mau nikahin hehehe) …

Kebiasaan gw, kalau ada pembantu baru, gw suka ajak ngobrol, dan ujung- ujungnya mereka cerita sendiri kehidupan pribadi dan masa lalunya.(setidaknya, cerita mereka selalu jadi kunci gw untuk selalu bersyukur dan menerima apa yang sudah gw terima sekarang)
Cerita pendek dari dewi yang pernah kerja di Malaysia selama 4 tahun. Salut gw sama dia, dia kerja dari usia 13 tahun,SD aja dia gak lulus, dia sudah harus nyari uang untuk ngebantu orang tuanya. Dia jadi pembantu di bandung, di Jakarta, dia ngalamin banget di gajih Rp 15000 perbulan yah tahun 1997 uang Rp 15000 berarti banget…termasuk nominal yang tinggi buat dewi saat itu. Sambil denger cerita nya dewi, gw berfikir begitu beruntungnya gw bisa sekolah, pake seragam baru sepatu baru, uang Rp 15000 mungkin saat itu bisa mudahnya gw dapet Cuma dengan menengadahkan tangan ke orang tua gw, sementara dewi dia harus kerja dulu selama 1 bulan, kebayang banget dia masih kecil, gerak tangan dan kakinya harus lincah biar gak di marahin sama majikannya. Umur 14 tahun dewi pulang ke kampungnya di cilacap dan di lamar sama tetangganya yang umurnya jauh di atas dia 9 tahun. Ya namanya juga di kampung neng, (dewi manggil gw eneng karena dia tau gw dari suku sunda), “padahal waktu itu saya punya pacar, Cuma saya di lamar sama orang lain, saya ga bisa nolak, kata orang tua kan kalau anak perempuan ada yang lamar ga boleh di tolak nanti susah jodohnya, ya saya nurut aja”(dengan logat jawanya dia bertutur).(duh kasihan kamu dewi kamu gak di kasih kesempatan untuk memilih keputusan yang terbaik).

Akhirnya dewi pun menikah dengan pria yang menurut dewi tidak nyambung kalau di ajak ngobrol, tidak pernah memberikan solusi dalam setiap masalah, pemalas dan tidak mau berusaha mencari pekerjaan, sementara dewi berharap dengan usia suaminya yang lebih tua, dia lebih dewasa dan bisa menjadi pembimbing buat dewi. dewi yang seharusnya menikmati masa remaja harus di hadapkan pada konlfik rumah tangga yang gak seharusnya dia rasakan di usia sedini itu. Pernikahan mereka pun hanya berjalan selama 3 bulan, namun dewi masih beruntung karena sumainya tidak pernah main fisik bila sedang emosional. Dewi memutuskan untuk bercereai dan dewi beruntung di pernikahannya yang seumur jagung itu mereka tidak di anugerahi buah hati. Mungkin allah memang mentakdirkan garis hidup dewi seperti itu, namun allah masih sayang sama dewi dengan tidak memberikan beban terlalu berat untuk dewi, allah tidak akan memberikan cobaan di luar batas kemampuan umatnya. Dewi ingin berusaha melupakan pernikahan nya yang gagal dan lebih baik, dewi mencari pekerjaan lagi, dia pun pergi ke Jakarta dan bekerja lagi sebagai pembantu rumah tangga, disinilah dewi mulai mengenal pria dan kembali jatuh cinta (prikitiiiwww), tapi dewi sebenernya masih trauma untuk menjalin hubungan dengan pria. Tapi pria ini begitu baik dan dia pun memberikan jalan untuk dewi bisa kerja di Malaysia yah, jadilah dewi TKW di Malaysia. Dewi menaruh kepercayaan yang begitu besar terhadap pria ini, pria baik yang dewi banggakan ini namanya pono widodo (heheh jawir banget ya)…
Dewi pun berangkat ke Malaysia, mereka akhirnya pacaran jarak jauh (Long Distance Relationship), belum lah ada alat komunikasi yang mereka punya, mereka pun berkomunikasi dengan surat menyurat, menurut dewi, hubungan mereka baik baik saja… dewi pun berharap sepulangnya ke Indonesia, dia akan menikah dengan pono.. 2 tahun berjalan dan dewi kembali ke Indonesia. Dewi pulang dengan penuh harapan sayanganya asa dewi patah setelah menemui pono. Menurut dewi, pria itu mengaku sudah tunangan dengan wanita lain, namun sebenarnya pria itu masih menginginkan dewi..(oh dewi, ternyata penantian kamu sia – sia yg sabar yah, allah sedang menyiapkan yg terbaik buat kamu) … jelas dewi benar2 terluka, saat dia cerita pun, air matanya berlinang dia gak bisa menyembunyikan kekecewaanya di masa lalunya, terlebih dia pernah menikah dan di kecewakan laki – laki (dewi life must go on ). Dewi pun memutuskan kembali ke Malaysia dengan membawa luka, berharap bisa melupakan semua kisah cintanya di Indonesia…2 tahun dewi di Malaysia dan kembali lagi ke Indonesia… rasa trauma itu tetap ada, hampir – hampir dewi sudah tidak percaya lagi sama makhluk tuhan yang satu ini “PRIA”.
Tapi kini dewi sudah menemukan Pria yang usianya 5 tahun lebih tua dari dewi, ya kurang lebih usia 31 tahun (bujangan boooo)… dan mereka sudah tunangan, dewi berharap pria ini yang terbaik buat dewi, meskipun hanya bekerja sebagai kuli dan kerja serabutan. Dewi berharap pada akhirnya nanti menikah dan mereka bisa buka usaha bersama, dewi begitu ikhlas menjalani kehidupannya dengan apa yang dia terima.
I wish you luck dewii…

P.S:
Duh dewi jangan cepet – cepet ya nikahnya susah nyari pembantu wi… kasihan ibu kos hehehe…

No comments:

Post a Comment