Monday, November 3, 2014

AIR MATA

Menghela nafas sejenak, menahan air mata yang terus berurai. Saat saya tak tau kemana harus menumpahkan kekecewaan dan rasa sakit hati ini yang mulai mendalam. Air Mata ini tak mampu lagi menahan kekecewaan yang ada untuk merasakan ini semua. Sambil berurai air mata, jemari ini pun memahami untuk membantuku mencurahkan kedalam tulisan ini. Saat ini kehamilan saya menginjak 6 bulan, seumur dengan usia pernikahan. Hidup berumah tangga dengan tinggal berjauhan alias LDR (long distance relationship) ternyata bukan hal yang mudah. Hal seperti ini sudah saya alami sejak pacaran LDR beda benua dengan orang yang berbeda. Mungkin belum berjodoh, pemicu pertengkaran itu selalu ada saja mulai dari komunikasi, perasaan yang on off seiring dengan harapan yang kadang penuh kadang berkurang. But anyway itu masalalu … karena pada akhirnya kami pun berpisah dari jarak jauh. Sepertinya sudah takdir saya lekat dengan LDR, kali ini saya menikah dengan suami yang berbeda profesi dan juga berbeda kota karena alasan tempat kami bekerja. Keyakinan kami memutuskan menikah hanya di rengkuh dalam 1 bulan. Dan kami yakin dengan pernikahan ini, everything gonna be oke, alasanya karena kami dulu teman satu sekolah meskipun tidak begitu saling mengenal satu sama lain, saya pun mencoba akan ikhlas dengan semuanya karena menurut pandangan saya yang saat itu hampir menginjak usia 30 tahun, sudahlah pantas bahkan terlambat untuk menikah. Keyakinan saya bahwa tak ada pasangan di dunia ini sampai matipun iya akan benar – benar mengenal pasangannya hingga akhir menjemput. Awal pernikahan berjalan kami hanya tinggal benar benar bersama dalam waktu beberapa minggu saja menghabiskan sisa cuti. Semua berjalan indah… memang sebelum pernikahan ini terjadi pertengkaran demi pertengkaran terjadi karena perbedaan pendapat dan sifat keras kepala kami berdua yang tak bisa diredam. Air mata ini mulai menetes untuk hubungan ini.. pernikahan berjalan, saya pun mengandung anak pertama, bukan hal yang mudah mengandung dan tinggal sendiri di kosan, jauh dari suami, jauh dari keluarga… im totally stay alone here in Jakarta. Trimester pertama juga bukan hal yang mudah ternyata yang saya alami, pengaruh kandungan ini membuat saya lemah segala galanya.. fisik saya, mental saya. Belum lagi pertengkaran dengan suami yang harus saya hadapi dan kadang membuat saya ragu dengan pernikahan ini. Dan kadang terfikir I prefer life to be alone. Tapi semua saya tepis karena niat saya dari awal menikah adalah untuk ibadah menyempurnakan separuh agama saya, mengejar surga dengan berbakti pada suami, dan hanya mengharap ridho Allah SWT. Belum lah kuat iman saya menjadi seorang istri diusia pernikahan yang baru seumur jagung. Dengan mengandung anak pertama ini, tidaklah merubah sifat keras suami saya, bahkan saya pun tak ingin kalah dengan ke egoisan saya mungkin dibalik keegoisan saya sebetulnya ingin di mengerti, ingin di fahami akan apa yang saya rasakan selama mengandung anak pertama kami ini dan ingin suami saya tau ini tidak mudah. Tapi saya tidak ingin mengeluh untuk semua ini. Perempuan ya saya hanya perempuan yang bisa mencurahkan semuanya melalui tangisan, air mata ini bahkan sudah tak membuatnya iba lagi, maafkan saya suami jika terkadang saya tak mampu membendung aib ini untuk saya telan sendiri. Karena terlalu sempit dan sakit untuk dirasakan sendiri. Saya kuat saya tegar karena terpaan pengalaman hidup sendiri yang sudah 8 tahun saya jalani sudah menjadi modal dasar benteng ketegaran dan karena ALLAH lah saya masih bisa berdiri meskipun iman saya tak setebal umi pipik (istri uje). Perbedaan pandangan, cara berfikir, menginterpretasi sungguh terasa sulit untuk bisa di mengerti bagaimana cara untuk difahaminya. Semua ini menjadi pemicu pemicu pertengkaran kami, mungkin seharusnya kami saling menghargai perbedaan perbedaan ini, akan saya coba, namun apakah dia pun berfikir sama? Untuk mampu menghargai? Ataukah hanya ingin dihargai? Entahlah … semoga saja saya bertambah tegar menjalani semua ini. Si buah hati inilah yang juga membuat pertambahan ketegaran saya menjalani hari – hari, tapi bukan tanpa rasa cemas akan apa yang selalu saya rasakan, kecewa, sedih, cemas, gelisah, saya harap buah hati saya memahami perasaan saya sebagai bundanya, bahwa ini adalah bagian dari permasalahan dunia dan ada masanya kita untuk bersenang, gembira, bahagia. Semoga anak yang dalam kandungan ku ini kelak menjadi anak yang tegar, kuat dan hanya mengeluarkan air mata untuk sesuatu yang berharga bagi dirinya. Ya ALLAh air mata ini tak dapat ku bendung manakala pertengkaran itu terjadi lagi, ketika nada suara itu makin tinggi di ujung telfon, dan kami berbalas kemarahan, ternyata anak dalam kandungan ku merespon dengan gerakan, saya merasakan gerakan ini begitu kuat, sayangnya hanya saya yang bisa merasakan ini, Ayahnya tidak.mungkin jika dia bisa bersuara ia sedang mengatakan” Ayah, bunda demi aku kalian jangan bertengkar” Maafkan bunda sama ayah nak, mohon doakan bunda dan ayah memiliki kesabaran yang luas , dan semoga AIR MATA ini menjadi berarti nantinya untuk AYAH…doakan juga pengorbanan bunda yang tak berarti ini, mendapat ridho ILLAHI dan semoga ini semua hanya proses untuk mencapai keluarga sakinah mawadah warahmah. Amin …

No comments:

Post a Comment