Thursday, November 6, 2014

Hijrah, There is a Way

Sore ini, selesai jam kantor ba’da magrib, saya bertemu dengan salah satu presenter kembar di kantor, saya menyapa nya dan mengundangnya untuk duduk dan makan bersama satu meja. Kebetulan juga dia sendiri, tiba tiba dia bilang, hai besok aku terakhir disini say, aku mau pulang ke Balikpapan. Tapi kalau saudara kembarku masih disini. Seperti air yang diputar keran nya, iya bercerita bahwa ia ingin mengabdikan diri untuk ke 2 orang tuanya yang sudah lanjut usia, iya ingin mencari surga, karena tak adalagi yang ia cari. Meskipun sebetulnya ia juga belum menikah. Dia bukanlah anak satu-satunya, kakak beradik ada 6 namun memang sudah ada yang tinggal di luar kota. Dan ia pun bukan satu- satunya anak yang nanti akan tinggal serumah dengan ayah ibunya, ada juga 2 kakaknya. But life is choice, itu yang ia pilih dan menjadi pilihan terbaiknya.keputusan ini bukan hal yang mudah untuknya menghijrahkan diri untuk tinggal kembali di kampung halaman dimana ia dilahirkan dan dibesarkan ditengah keluarga yang religious. Banyak hal yang harus ia korbankan, karirnya sebagai presenter yang ia capai selama 10 tahun dia merantau di Jakarta jauh dari orang tua, pendidikan S2 yang sedang ia jalani pun terpaksa harus cuti sementara. Pahit manis nya dan asam garam kehidupan tentunya sudah tak ada lagi yang dapat meragukan kemampuannya, jaringan yang luas di media pun tak lantas membuatnya sulit untuk kembali mendapatkan pekerjaan dibidang yang sama, ditempat dimana ia akan menetap dan akan setiap hari ia melihat senyum sapa dan canda kedua orang tuanya. Saya pun terpancing untuk bercerita, ya saya juga dilema apakah keep stay di Jakarta atau tinggal bersama ikut suami di cimahi, sementara masih banyak tanggungan yang harus saya pikul dan juga suami. Niat saya ingin membantu suami, hanya resiko nya harus tinggal berjauhan dan anak yang dalam kandungan saya pun terpaksa sejak pertama dikandung harus tinggal berjauhan dari ayahnya. Menimpali curhatan saya, teman saya presenter ini mengingatkan saya akan ucapan pak habibi “membangun karakter,budaya, budi pekerti seorang anak adalah sejak dalam kandungan” sedangkan ucapan bu ainun “ saya memang seorang dokter, tapi saya tidak mau membuat anak – anak saya merasa tidak punya ibu dengan saya bekerja, saya bisa mengajar tapi untuk apa jika saya tidak menghebatkan anak – anak saya” . amazing kalimat – kalimat para tokoh ini membuat saya berfikir, saya memang bukan bu ainun saya bukan orang kaya.. saya orang yang sedang menapaki anak tangga. realistis ini lah pendapat idealisme saya… kemampuan saya untuk hijrah hati, hijrah tempat tinggal, hijrah cara pandang, hijarah cara berfikir ini lah yang harus terus saya cari untuk menjadi sebuah alasan merealisasikan hijrah hijrah yang ingin saya capai ini…dengan keimanan saya yang masih dangkal ini mungkin inilah yang menjadi alasan sulitnya untuk memutuskan hijrah. Namun pertemuan kali ini cukup membuat saya terpacu dan berfikir lagi untuk yakin dengan hijrah ini karena niat yang sangat baik.. there is a way always. Teman saya presenter ini pun menyarankan saya untuk melamar ke stasiun tv pemerintah di bandung, dan ia akan membantu saya… jika ini terwujud, ya saya semakin yakin dengan kalimat “there is a way”, God always show Us the way. Amiin

No comments:

Post a Comment